Tampilkan postingan dengan label hospital. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hospital. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Desember 2020

Infeksi Bakteri

Sedih itu.......
pulang dari jalan-jalan di Garut bawa oleh-oleh sakit.
Iya, Kiona sakit sepulang dari kami jalan-jalan ke Garut kemarin.
Sebagai orangtua sempat merasa berasalah, apalagi ini masih masa pandemi.

Sempet was-was jangan-jangan kena covid, tapi buang jauh-jauh pikiran jelek kayak gitu. 
Pulang dari Garut, malamnya Kiona langsung demam, akhirnya kami langsung bawa ke RS Ibu dan Anak dekat rumah.
Sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, Kiona di rapid dulu sekalian diambil darahnya untuk cek darah.
Puji Tuhan hasilnya negatif covid, dan dari cek lab nya, Kiona kena infeksi bakteri.
Kami menyimpulkan Kiona kena bakteri di kolam renang Garut kemarin.
Bukan mo menyalahkan Hotel atau apapun ya, ini emang si Kocik aja yang jadi penyebabnya.
Kalo berenang, airnya suka diminum sama dia. Gimana ga bakteri masuk ke badan?
Udah dinasehatin berkali-kali, tapi ya emang masih belum ngerti, masih anak-anak yang kalo dibilangin masih iya-iya aja. 
Ada Mamak2 yang sama anaknya suka minumin air kolam renang? dikira jus kali ya. Deuh.
Sebagai orangtua, ke depannya untuk antisipasi yang beginian lagi ya cuma sabar-sabar aja tetep diomongin ke anaknya kalo air kolam renang ga boleh sama sekali diminum dan kalo emang mo berenang harus bener-bener dalam kondisi FIT 100% lah ya, jadi daya tahan tubuhnya juga bagus walau ada sedikit bakteri atau virus menghampiri.

Puji Tuhan sih cuma 2 malam kami menginap di "hotel" RSnya, Hari kedua kiona udah ga demam lagi seharian, jadi di hari ke-3 udah bisa pulang ke rumah.

Semoga sehat-sehat terus ya..


Sabtu, 25 November 2017

Opname di Hari Ulang tahun

1 November 2017
Selamat Ulang tahun pertama, anak kami, boru kami, kesayangan kami Kiona Eldora. Tanggal yang sangat spesial bagi keluarga kami. Bahkan kami sudah mengajukan cuti kantor khusus untuk tanggal ini karena rencananya kami mau liburan sambil merayakan ulang tahunnya Kiona, namun kelihatannya rencana kami bukanlah rencana Tuhan.
tanggal 1 November tepat Kiona yang seharusnya berbahagia menikmati pertambahan usianya harus cek-up ke dokter karena sempat demam tinggi. Saat itu dokter hanya memberikan obat penurun panas untuk balita yaitu Sanmol Drop, namun dokter menyarankan untuk cek lab apabila sampai 3 hari masih demam. RS Masmitra tetap jadi pilihan kami karena selain dekat dari rumah, Dsa. Ida yang jadi dokter andalan Kio juga praktek hari itu.
sakit tapi masi bisa ketawa
3 November 2017
Setelah 3 hari demamnya masih naik turun (pagi ke siang turun, sore malam sampe pagi demam lagi), akhirnya kami kembali ke Rumah Sakit sesuai saran dokter anak kemarin untuk cek darah di lab. Hasilnya mengejutkan sebenarnya, di semua test, Kio negatif, namun di prathypo, Kiona mendapat angka merah. Namun dokter menyarankan Kio dirumahkan saja, karena masih bisa dilakukan pengobatan rumah, tidak perlu dirawat inap, sehingga kami pun lebih tenang, Kio tetap diberi obat penurun demam. Puji Tuhan sore itu Kio ga naik lagi demamnya.
nunggu cek lab
sama papa
4 November 2017
Karna di tanggal 3 November Kiona sudah turun panasnya, di tanggal 4, kami memberanikan diri untuk merayakan secara kecil-kecilan ulang tahun kesayangan kami. di hari itu, Kiona masih agak rewel, namun panasnya sudah sangat-sangat berkurang dari hari-hari sebelumnya, sehingga saat itu sama sekali tak terbersit di pikiran kami kalau kami akan kembali lagi ke Rumah Sakit. 
properti ulang tahun seadanya
 




rebutan balon sama mbaknya
 



sama opung (masih rewel)


buat dibagi ke tetangga
6 November 2017
Sampai dengan hari Minggu tanggal 5 Kio ga demam lagi, tapi Minggu malam ke pagi demamnya mulai lagi sampai 39 derajat. Pagi itu kami membawa Kiona kembali ke Rumah Sakit untuk di periksa lagi. Kami berganti RS jadi ke RSIA Bunda Aliyah untuk second opinion. Kami membawa hasil test lab sebelumnya sampai dengan obat-obatan yang diberikan di RS Masmitra. Tapi hasil pemeriksaan di RS Bunda Aliyah juga menyarankan Kio tetap dirawat di rumah karena masih sakit ringan. Satu hal yang menjadi pertimbangan dan menita pikiran kami adalah selama sakit ini Kiona sama sekali ga mau makan minum, hanya mau minum ASI, padahal ASI mama juga sudah sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan Kio. Sehingga setelah berembuk sebentar, kami memutuskan Kio dirawat inap saja agar mendapatkan cairan dan nutrisi dari infus. Itu jalan terbaik menurut kami karena dengan begitu Kiona tidak dehidrasi. Bisa dilihat di foto-foto sebelumnya berat badan Kiona sangat turun, pipinya tirus. Kami juga sudah betukar pikiran dengan orang tua kami dan mereka juga dengan berat hati setuju Kiona dirawat saja. Namun ternyata ruangan untuk anak tidak tersedia saat itu karena penuh. Mau tidak mau kami pindah lagi ke RS Masmitra, tapi kami meminta surat rujukan sehingga Kiona tidak perlu test ini itu lagi. Akhirnya fix Kiona dirawat inap alias opname di RS Masmitra di hari itu. Jangan ditanya betapa teririsnya hati mama papa saat Kio mau diinfus, tapi ini semua demi kebaikan Kio.
abaikan muka sakit
nyobain makan pisang walau akhirnya dilepeh
hari pertama makan, cuma habis sedikit
semua dicobain biar ada yang masuk perut
hari Kedua dijenguk opung
:(


hari ketiga udah mulai ceria


hari ketiga udah mau makan sambil nonton youtube 
8 November 2017
3 hari Kiona di Rumah Sakit, akhirnya tanggal 8 November sudah boleh pulang oleh Dsa. Ida di RS Masmitra, setelah di cek pipisnya, makannya dan lain-lain semua sudah normal. Puji Tuhan Kiona sudah mau makan setelah itu dan kini dia sudah gemuk lagi.

Sehat-sehat terus boru mama papa. Tahun depan kita rayain ulang tahunnya yang meriah ya nang sebagai ganti tahun ini sudah diingatkan Tuhan untuk selalu bersyukur atas nikmat kesehatan. :)

ketiduran di baby walker








Sabtu, 25 Maret 2017

DPT ke-2 + Rotavirus

Hari ini Kiona makin pintar.
Kenapa begitu?
Karena vaksin DPT sudah masuk ke dalam tubuh Kio
jadi tubuh Kio makin kebal dan sehat, dan Kio jadi semakin pintar..
Hehehehehehe..

Pagi ini kembali mendatangi RS Masmitra dimana Kio lahir. RS yang terdekat dari rumah dan bisa cover asuransi (tetep). Aku berdua dengan Kiona karena papanya kerja, kerja dan kerja.

Begitu sampai RS, langsung daftar ke Dr. Ida dengan nomor antrian 2 (padahal itu sudah jam 08.00). Mungkin karena orang-orang mengira dr. Ida akan kembali terlambat datang seperti minggu-minggu lalu. Tapi ternyata hari ini dr. Ida tidak terlambat. Hahahaha.

Kiona yang pertama kali dipanggil, kemungkinan nomor antrian 1 orangnya lagi ga ada, jadi langsung ke Kiona.
Begitu bertemu dr. Ida dan konsultasi ini itu tentang tumbuh kembang Kiona, akhirnya Kiona diberikan 2 vaksin yaitu DPT ke-2 dan Rotavirus.
Saat DPT pertama Kio mendapat vaksin infranrix-hexa, namun hari ini Kio diberikan vaksin pediacel. Kenapa? karena infranrix-hexa nya sedang kosong.
Sebelumnya dr. Ida menawarkan 2 vaksin kepadaku yaitu Pediacel dan Hexaxim. Apa bedanya? Sama-sama vaksin DPT yang menyebabkan bayi tidak demam, namun yang berbeda adalah kandungannya. Hexaxim ada tambahan vaksin hepatitis-B.
Kenapa aku lebih memilih Pediacel dibanding hexaxim? padahal kan hexaxim lebih lengkap?
Alasan pertama karena dari segi harga. Pediacel lebih murah dibanding Hexaxim. FYI, Pediacel di RS ini harganya 800 ribuan rupiah, dan Hexaxim bisa sampai 1 jutaan rupiah. 
Alasan kedua, Kio sudah mendapat 2 kali vaksin hepatitis-B. Untuk yang ke-3 nanti saja di usia 6 bulannya Kio, siapa tahu infranrix hexanya sudah ready. Walaupun memang Hepatitis-B ini adalah vaksin mati yang tidak akan berbahaya apabila diberikan lebih, namun aku hanya ingin semua sesuai dengan jadwal imunisasi Kiona.

Untuk Rotavirus, Kio diberikan vaksin Rotarix. Walaupun kata orang banyak ga terlalu ngaruh, tapi ya coba aja sekali ya kak Kio. soalnya yang kemarin Kiona diare benar-benar menjadi pembelajaran. Hehehehe. Walaupun bakteri diare meamng bisa menyerang kapan dan dimana saja.

Kiona ditidurkan di tempat tidur di ruangan dr. Ida dengan masih mengunyah tetheer di mulutnya. Begitu suntikan mendarat, Kiona anteng dengan tethernya, padahal mamanya udah siap-siap pegang tangan Kio siapa tau bergerak. Hahahaha. sampai seluruh cairan di suntika habis, Kiona anteng kayak ga terjadi apa-apa.
Anak pinter. Hahahaha.

Setelah vaksin, Kiona aku jadwalkan untuk tindik anting, jadi kami berdua diarahkan ke bidan di lantai 2 tempat bayi. Kata dr. Ida ga apa-apa kok setelah vaksin langsung tindik. Setelah sampai di sana, aku tidak diperbolehkan masuk, Aku menyerahkan anting Kiona yang aku bawa dari rumah dan Kiona dibawa ke dalam ruangan.
Yang kudengar tidak lama setelah itu, Kiona menjerit sejadi-jadinya.
Tindik di RS Masmitra dikenakan biaya 40 ribu rupiah (anting dari kita) dan sistem tindiknya bukan yang tembak, tapi masih ditusuk dengan jarum.

Tega ga tega sebenernya dari kemarin-kemarin sempat ga jadi-jadi tindik Kio yang pada akhirnya mama Kio membulatkan tekad untuk tindik (halah).

Selesai ditindik, Kio masih nangis sejadi-jadinya. Ya iya lah, ditusuk jarum sampe nembus gimana ga sakit. Maaf ya sayang, tapi nanti kalo kamu udah besar dan mau tindik, udah keburu tebel kulit telinganya, walaupun bisa tindik tembak tetap aja kan sakit. Hehehehe. Jadi ya ditega-tegain aja.
berlumur darah
Aku langsung kasi Kiona minum karena memang sudah lebih setengah jam dari waktu vaksinnya.
Dan setelah itu kami langsung pulang ke rumah agar Kio bisa istirahat di tempat tidur.

Bekas suntikan di paha Kanan atas


Selesai sudah vaksin Kiona. kita tunggu vaksin DPT ke-3 saat Kiona 6 bulan ya..
Sehat terus sayang Mama Papa.

Minggu, 22 Januari 2017

DPT bikin demam? oh NO!!!

Salah satu vaksin yang paling ditakuti sama para orang tua adalah vaksin DPT atau DTP.
Why?
Karena vaksin ini berefeksamping demam ke bayi yang divaksin dan akan menyebabkan bayi rewel sepanjang hari.
Tapi mom ga perlu khawatir karena vaksin DTP ini juga sudah tersedia untuk yang katanya bikin ga demam. Vaksin DTP yang biasanya beredar selalu dikombinasikan dengan vaksin lain seperti hepatitis B, polio dan HIB sehingga dengan 1 vaksin, bayi sudah mendapatkan beberapa vaksin sekaligus.
Setahuku, ada 3 jenis vaksin yang dimix dengan vaksin DTP ini yaitu:
1. Pentabio (terdiri dari DPwT, Hepatitis B dan HiB)
2. Infrarix/Pediacel (terdiri dari DPaT, Hepatitis B, Polio dan HiB)
3. Hexaxim  (terdiri dari DTaP, Hepatitis B, Polio dan HiB)

Loh kok Hexaxim, Infrarix dan Pediacel sama kandungan vaksinnya? Yup sama, hanya perusahaan pembuat vaksinnya saja yang berbeda.
Harga??
Jelas sangat jauh sekali sodara-sodara.
Di RS Masmitra tempat Kio vaksin, Pentabio yang katanya bikin demam itu (karena kandungan DPwT) harganya Rp 150 ribu, untuk Infrarix dan Pediacel Rp 650 ribu, sedangkan hexaxim melonjak harganya langsung ke Rp 950 ribu (mengandung DPaT yang anti demam)

Nah apa beda DPwT dan DPaT?
Pentabio merupakan vaksin yang menggunakan DPwT. Huruf “w” pada kata “DPwT” menandakan bahwa vaksin ini menggunakan whole cell atau sel utuh dari komponen pertusisnya. Artinya seluruh bagian tubuh kuman pertusis dimasukkan yang nantinya akan meningkatkan resiko kejadian demam. Sedangkan Infanrix-Hib-IPV dan Pediacel menggunakan DPaT yang mana huruf “a” menandakan bahwa vaksin ini menggunakan acellular pertussis, maksudnya hanya bagian-bagian tertentu saja dari kuman pertusis yang diambil.   Apa yang membedakan Pediacel dan Infanrix-Hib-IPV? Pediacel menggunakan 5 komponen pertusis sehingga sering disebut DTaP5 sedangkan Infanrix-Hib-IPV menggunakan 3 komponen pertusis sehingga sering disebut DTaP3. Mana yang lebih sering menyebabkan demam? Belum ada penelitian khusus yang membandingkan kedua vaksin tersebut. Belum tentu ketika lebih banyak komponennya maka akan menyebabkan resiko demam lebih tinggi karena seperti kita ketahui bahwa teknologi terbaru vaksin memungkinkan penggunaan antigen yang lebih kecil dengan ajuvan sehingga efek sampingnya bisa dikurangi.
Diambil dari artikel terkait disini

Kiona yang saat ini hampir berumur 3 bulan, sudah jadwalnya untuk vaksin DPT. Kami sebagai orang tua mau supaya Kio tidak demam, sehingga tidak rewel, jadi kami sudah menyiapkan dana untuk vaksin hexaxim untuk Kio.
Namun ketika di RS, mamanya berubah pikiran karena Dokter Ida di RS Masmitra menerangkan bahwa memang kandungan hexaxim dan infrarix itu memang sama. Perihal demam atau tidak demam itu tergantung lagi ke daya tahan tubuh si bayi. Mau dikasi vaksin hexaxim yang paling mahal sekalipun, kalau si bayi memang sedang lemah, pasti akan demam juga walau tidak parah, sedangkan jika daya tahan si bayi memang sedang baik, diberikan vaksin pentabio pun pasti tidak demam.
Ya kembali ke keyakinan orangtua dan budget juga sih.
Akhirnya Kiona kami berikan vaksin Infrarix saja. dan Puji Tuhan samapi saat ini dia tidak demam. Sedikit rewel mungkin karena badannya agak pegal pasca vaksin.
Tapi sekarang princessnya mama cuma nangis sebentar saat di vaksin.
Kiona kan anak pinter. Hehehehehe..
Sehat terus nak..
Nanti kita datang 2 bulan lagi untuk vaksin Infrarix kedua ya nak..
KISS
abis vaksin

Kamis, 24 November 2016

Kiona si bayi kuning?

Selepas pulang dari RS, tetep ada yang namanya cek up dan cek up.. Emang ya RS ga mau rugi.. Tapi demi kesehatan dan kesejahteraan, ya harus diikutin juga..

Kami pulang dari RS tanggal 2 November dan Kak Kiona diminta datang lagi untuk imunisasi tanggal 5 November..
Yang aku herankan, harusnya seenggaknya ada 1 vaksin yang langsung dikasi pas bayi baru lahir, tapi ternyata kak Kio sama sekali ga di vaksin waktu dia lahir..

Tgl 5 November aku, kak Kio dan mama (suami kebetulan lagi kerja) ke RS Masmitra jam 14.00 untuk bertemu dengan dokter Arif yang kebetulan waktu lahiran bantuin Kio sebagai dokter anak.
Dateng ke RS dengan perasaan senang karena anakku mau dikasi kekebalan nih buat penyakit2..

Sampe di RS kami langsung ke lab karena dirujuk untuk cek golongan darah dan bilrubin (merasa aneh lagi, kok golongan darah ga diambil pas lahir kemarin)..

Kak Kio yang emang tukang nangis pas diambil darahnya otomatis nangis ngejer.. Nangis sejadi-jadinya ampe aku sebagai orang tua pengen ngomong ke mba-mba lab nya, udah ambil aja darah saya mba (kalo bisa diwakilin) dan begonya, mba-mba labnya susah banget nyari uratnya Kio.. Sampe pindah tangan, uda disuntikin beberapa kali ga dapet2 juga.. Ini apa karna Kio badannya tegang semua makanya ga dapet2 juga, tapi kan tetep aja ga tega ngliat anak sendiri disuntikin berkali2..
Abis dapet darahnya, langsung dikasi nyusu ama emaknya (FYI, air susuku udah keluar, ntar akan dibahas di postingan selanjutnya ya)..

Sembari nunggu hasil lab, sembari nunggu Dr. Arif..
Jadwal dokter dari jam 14.00 s/d 15.00 tapi si Dr baru dateng jam 17.00.. Grrrr, ga profesional banget deh ni dokter, terlepas dari urusan beliau mungkin ada yang urgent, tapi harusnya ngabarin kek..

Sekitar jam 17.15 kami dipanggil ke ruang Dr karena kami dapet nomor antrian 3..
Trus kak Kio dicek, katanya pernafasan sama pencernaannya bagus (bayi 4 hari coy), jantungnya juga baik.. Tapi pas diliat hasil labnya, ternyata bilirubinnya tinggi..
Dan ga tanggung-tanggung si Dr langsung nyuruh Kio dirawat pake blue light..

Siapa yang ga panik coba, dateng ke RS niatnya buat imunisasi, nyampe sana malah disuruh di rawat di ruang intensive yang ga boleh ada orang, 2 hari pulak..

Ggggrrr.. Kalo inget itu jadi kesel sendiri..
Karena aku panik, suami ga ada, mama nyaranin aku ikutin apa kata dokter karena bilirubin tinggi artinya Kio kuning..

Padahal mata, kulitnya Kio normal-normal aja.. Emang sih dalam 4 hari ini Kio cm dijemur 2 hari aja, itu bukan karena emaknya males ya, itu karena dalam 4 hari ini cuma 2 hari yang ada sinar mataharinya, sisanya hujan.. Ditambah hari pertama kedua dimana air susu aku juga emang ga keluar sama sekali.

Tapi karena namanya udah panik, ditambah suami yang ngomong, ya udah terserah kamu gimana baiknya, dan mama yang bilang ikutin aja kata dokter, jadilah aku setuju Kio dirawat intensive di ruang berlampu biru itu.. Aku sempet ngadep lagi ke Dr. Arif, apa ga ada cara lain selain di rawat, dan jawaban ngeselin yang aku terima adalah kalo mau sehat ya harus dirawat 2 hari.. Iiih, dipikir-pikir sekarang jadi kesel sendiri kemakan kepanikan sama omongan kayak gitu..

Kio yang emang tukang nangis, udah tau lah kalo ditinggal sendirian nangisnya pasti kayak apa..
Aku di RS juga udah nangis-nangis mikirin gimana Kio ditinggal sendiri di RS tanpa kami..
Aku terpaksa beli susu formula karna memang air susuku ga terlalu banyak utk dipumping dan bli popok sekali pakai juga. 

Suami buru2 pulang dari kantor ambil semua keperluan Kio yaitu botol susu, empeng sekalian jemput ak dan mama..

Tiap ditinggal ato pindah ke tangan suster ato diletakin di ruang biru, Kio nangis trus sampe ga tega ninggalin si Kio sendirian di RS..

Malemnya aku ga berhenti nangis, rasanya kayak lagi patah hati banget, ga kebayang Kio pasti nangis terus di RS..

Sambil searching2, malemnya baru bisa berpikir sedikit lebih jernih.. Ternyata setiap bayi itu pasti kuning.. Penanganannya ya cuma jemur matahari dan minum susu sebanyak-banyaknya. Berasa tolol mau aja dijadiin ajang cari duitnya RS itu.. Iiih, kesel banget..
Dan ternyata wajar kalo bayi 4 hari bilirubinnya di atas 10.. Gggggrrr.. Tambah kesel lagi.. Akhirnya sepakat sama suami besok pagi langsung ambil Kio dari RS dan ga akan mau ke Dr. Arif lagi.. Bukannya nenangin malah kasi solusi yang nguntungin dia ama RS doang..

Paginya aku coba pumping karena semaleman ga nyusuin Kio, setengah jam dapet 120ml.. Lumayan buat persediaan..
Jam 07.30 langsung ke RS dan jemput kak Kio. Kata dokter yang jaga, semaleman Kio nangis terus.. Huaaaaa, maafin mama ya nak.. Ga akan lagi kamu mama tinggal sendirian..
Sampe pas digendong, ga tau ini sugesti aja karna semaleman ga gendong Kio ato emang beneran, badan Kio jadi ringan gitu... 😭😭😭
Ya Tuhan.. Apa karna nangis semaleman..
Pokoknya ga akan ditinggal-tinggal lagi ya kak.. Dasar RS mata duitan...

Biaya selama di RS kurang lebih setengah hari itu ngabisin uang sebanyak Rp 1.3 juta.. Bagi kami yang bukan dari keluarga kaya raya ya uang segini juga udah banyak kan, apalagi kemarin baru beres lahiran..
Rincian biaya
Dan di RS ini kalo rawat inap itu entah kenapa disuruh deposit duluan.. Kemarin diminta deposit 2.8juta..

Ya sudahlah..
Pelajaran yang bisa diambil apalagi kalo keluarga baru kayak kami ini, jangan gampang panik situasi apapun, nanti malah jadi salah ambil keputusan kayak kami.. Sebelum ambil keputusan ada baiknya searching sebanyak-banyaknya atau tanya ke orang-orang yang lebih tau atau seenggaknya udah pernah ngalamin hal serupa..
Sampai kemarin pas mau jemput Kio ke RS, satpam cluster kami yang baru lahiran kembar sempet bilang, kuning ga usah sampe dirawat bu, anak saya kuning aja ga dirawat.. Dan akhirnya bener-bener memantapkan hati untuk ga akan ke Dr. Arif lagi.. Mau cari Dr lain aja mendingan..

Yah, itu lah cerita kak Kio yang katanya kuning.. So untuk newbie parents, setiap bayi pasti kuning, jadi jangan panik, yang penting tetap dijemur dan kasi minum ASI yang banyak..

Oke, itu dulu, see you in next posting..
Salam cium dari kak Kiona..

Lahiran di RS Masmitra Bekasi.. Launching Baby K

Aaah, akhirnya baru sempet update blog lagi yaaaa..

Setelah pengalaman melahirkan yang tak terlupakan seumur hidup aku..
Hihihi..
So langsung aja kita buka cerita pengalaman melahirkan ini ya.. Jangan lupa sedia popcorn dulu karna ceritanya akan sangat panjang..

Jeng..
Jeng..
Jeng..

1 November 2016
Baru kemarin malam tgl 31 Oktober cek up ke Dr. Wawan, belum juga obat penambah darah yang dikasi Dr. Wawan sempat diminum, hari ini tgl 1 November jam 03.00 WIB dini hari aku terbangun dengan rasa sakit di bagian perut bawah. Karna selama beberapa hari kemarin sempat merasakan hal serupa, aku ga ambil pusing.. Aku berusaha tidur kembali menepis rasa sakit itu.. Namun ga lama kemudian, aku merasakan sakit itu lagi.. Begitu sampai berkali-kali..

Aku yang sempat membaca artikel tentang kontraksi kehamilan mulai curiga, rasa sakit ini kok sepertinya ada intervalnya ya.. Aku mulai coba menghitung tiap berapa menit sekali rasa sakit itu muncul..

Ternyata benar, aku sepertinya sedang kontraksi, karena interval rasa sakit itu rata2 5 menitan  kadang 6-8 menit.. Namun selalu berulang..

Aku mencoba tidak panik dan tetap menikmati rasa sakit ini.. Aku sudah tidak bisa tidur lagi saat itu..
Namun sekitar jam 04.00 pagi, aku agak ga rela menahan sakit ini terus.. Aku mencoba bangun dan berjalan bolak balik di ruang tamu. Berharap rasa sakit itu berkurang..

Dan.. Cuuuur.. Aku merasa seperti sedang mens.. Setelah ku cek di kamar mandi, ternyata aku flek dan setelah aku yakin mungkin ini sudah waktunya, aku segera membangunkan suami tercinta..

Suami dengan sigap bangun dan memasukkan tas ke mobil yang memang sudah aku siapkan kalau-kalau saat seperti ini tiba.. Aku menelepon orangtua ku yang kebetulan sedang ada di Bekasi..

Orangtua ku meminta kami tetap tenang, karena dari kontraksi dan flek masih ada selang waktu agak lama sampai dengan lahiran. Kami masih disuruh mandi dan bersih-bersih dulu sebelum ke rumah sakit.
Setelah selesai mandi, kami janjian dengan ortuku langsung bertemu di RS Masmitra saja..

Selama perjalanan aku masih merasakan sakit kontraksi itu dengan interval yang sama dengan sebelumnya yaitu sekitaran 5 menit..

Sampai di RS sekitar jam 05.30 dan aku langsung ditempatkan di IGD. Dokter jaga di sana langsung menanyakan aku biasanya periksa ke dr siapa, dan sudah brp minggu, apa saja yang dirasakan sekarang, setelah itu aku diminta menuggu bidan datang karena saat itu bidan di RS sedang memandikan bayi.. Suami langsung mengurus pendaftaran.. Saat itu suami masih galau mau masuk kantor ato tidak, karena mamaku bilang ini kemungkinanya lahiran masih lama bisa sekitar sore atau malam, mama menyarankan suamiku masuk kerja saja..

Setelah menunggu sekitar 10 menit di IGD, aku dibawa ke ruang bersalin oleh bidan yang sudah selesai memandikan bayi tadi..
Dicek pembukaan (belum apa-apa aku sudah tegang dan takut karena si bidan memasukkan tangan dan jarinya ke dalam miss V ku, padahal selama cek kehamilan, aku ga pernah sekalipun cek dalam sehingga miss Vku selalu aman dari sentuhan dokter ato perawat), ternyata sudah pembukaan 3..

Aku diminta menunggu saja sampai pembukaannya naik sambil menikmati kontraksi yang rasanya begitu nikmat..
Setengah jam berlalu, aku diminta buang air besar dengan bantuan obat semacam gel (ga tau obat apa) yang dimasukkan ke dubur yang efeknya dalam 2 menit sudah aku rasakan. Aku BAB sambil menahan sakit kontraksi.. Rasanya mau jatuh pingsan di dalam kamar mandi karena rasa kontraksi yang jauh lebih intens dan sakit dari sebelumnya..
Sama mama

Sekitar jam 8, suamiku memutuskan untuk izin saja dari kantor.. Katanya ambil cuti istri melahirkan aja di 2 hari ini..

Bidan dan susternya intens tiap 2 jam sekali cek rekam jantung si kakak dan sekalian cek pembukaan..

Aku yang menahan rasa sakit kontraksi, mulai terbiasa di obok-obok untuk cek pembukaan.. Tiap 2 jam sekali pembukaan naik trus.. Si kakak sehat banget terbukti di rekam jantungnya selalu stabil..

Rasa sakit kontaksi semakin naik pembukaan semakin cepat intervalnya.. Sangking sakitnya, tiap rasa sakit itu datang, aku selalu teriak-teriak sampe suster dan bidannya terbiasa sama teriakanku.. Mereka menyarankan tarik nafas dari hidung dan keluarkan dari mulut katanya untuk mengurangi rasa sakit, tp menurutku itu sama sekali ga mempan buatku. Mau tarik nafas buang nafas seteratur apapun, tetap aja sakitnya luar biasa.

Jam 11 pembukaan udah naik jadi pembukaan 8. Tapi sampe jam 14.00 ga naik sama sekali, tetap di pembukaan 8. Hingga akhirnya Dr. Wawan datang di jam 14.30, suster sudah siap2 untuk lahiran karena mungkin aku sudah dirasa layak dan sudah waktunya.

Dalam kesakitanku, aku sempat diajari oleh suster caranya mengejan/mengeden nanti..
Dr. Wawan memulai melihat pembukaanku dan aku merasakan si dokter seperti memasukan sesuatu ke miss V ku. Aku bener-bener pasrah, udah ga tau lagi mau gimana. Belakangan baru ku tahu bahwa saat itu Dr. Wawan tengah merobek miss Vku. Sengaja dirobek, agar nanti lebih mudah dijahitnya, ketimbang robek tidak menentu arahnya. Karena saat mengeluarkan bayi sudah pasti akan robek, jadi sekalian dirobek secara teratur saja.

Setelah adegan robek merobek, ak diminta mengeden.. Saat mengeden, Dr mengatakan bahwa si kakak dalam posisi terlentang, maka harus di vacum, namun vacum di sini bukan vacum untuk menarik kakak keluar, tapi vacum untuk memutar saja. Untuk keluar tetap diserahkan ke perjuangan aku dan si kakak.. Ini yang menyebabkan pembukaanku cuma sampe pembukaan 8..
Setelah coba di vacum, akhirnya aku diminta mengeden lagi.. Aku ga ingat berapa kali mengeden baru si kakak bisa keluar, mungkin sekitar 4 sampe 5 kali..

Mengeden dengan posisi kaki ditarik ke arah perut, dibantu dengan 3 suster yang mendorong perutku ditambah mama dan mertua (mertua datang saat pembukaan 8 siang hari) yang mendorong kepalaku (kepala harus dalam posisi terangkat sambil melihat ke perut kita sendiri)..

Kudengar mama mengucap doa sambil mendorong kepalaku, sejenak aku sempat berpikir beginikah perjuangan seorang ibu yang melahirkan anaknya?
Suamiku ketika itu sama sekali tidak melihat proses itu. Katanya sih dia ga tega..
Saat kepala si kakak keluar, Dr. Wawan bilang, ayo sekali lagi ngedennya, dan setelah ngeden yang terakhir (entah kenapa Dr. Wawan, suster, mamaku dan mertuaku ikutan ngeden juga saat itu) akhirnya terdengar suara tangis bayi yang begitu nyaring, dan perasaanku sangat-sangat-sangat lega sekali, sembari itu pula segala sakit hilang, sakit kontraksi dan sakit mengeden hilang seketika.

Setelah kakak lahir, kata pertama yang aku ucapkan adalah "thanks God" setelah itu aku benar2 tidak sadarkan diri karena langsung dibius total untuk dijahit.  FYI, aku dijahit sebanyak 10 jahitan di bagian miss V sampai ke dubur.. Saat itu kakak lahir jam 15.05..

Aku berada di awang-awang selama satu setengah jam, dibius itu serasa menyadari bahwa aku diganti bajunya, tapi segalanya buram, aku mendengar suara berisik, tapi aku ga bisa tau mereka membicarakan apa..
Aku bahkan tau suamiku menciumi aku, walaupun aku masih belum sadar benar dari bius..

Jam 16.30 aku benar2 tersadar walau masih lemas.. Belakangan ini aku baru menyadari, kenapa aku harus dibius total, padahal aku ingin segera IMD dengan si kakak.. Ini akhirnya si kakak dibiarkan menangis selama satu setengah jam menunggu aku bener-bener sadar sepenuhnya.. Setelah itu baru IMD walaupun air susuku sama sekali tidak keluar saat itu juga..
Baru sadar jam setengah 5 (first family potrait?)

Sekitar jam 17.00 atau 17.30 itu aku kurang ngeh, akhirnya aku dipindahkan ke ruang rawat kelas 2 (isi kamar 3 orang dengan fasilitas 1 kamar mandi dan 1 TV). Saat itu hanya ada 1 pasien, denganku jadi ada 2 orang.

Si kakak setelah mandi langsung diletakkan di samping tempat tidurku karena kata suster si kakak terus-terusan menangis..
Aku mencoba menyusui lagi, namun memang tidak keluar juga..

Hari itu juga aku dikunjungi oleh keluargaku, nang tua dan tante kemudian ito Mori dan eda Yohana..

Malam itu aku ditemani oleh suamiku di RS bersama dengan kakak yg hampir tiap setengah jam menangis minta air susu.
Baru di malam itu aku baru bisa memberi kabar kepada teman-teman kantorku, teman2 kuliah dan update di sosmed juga..
O iya, daritadi belum memperkenalkan si kakak ya.. Ini dia..
Sama opung-opung


Nama: Kiona Eldora (br Sihombing)
Jenis Kelamin: perempuan
TTL: Bekasi, 1 November 2016 jam 15.05
Berat: 3.1 kg
Panjang: 48 cm

Untuk mama, mertua dan seluruh mama-mama di dunia, kalian semua luar biasa. Perjuangan melahirkan ini memang antara hidup dan mati ya..
Bersyukur aku cuma kontraksi selama 12 jam saja dari jam 3 dini hari sampai jam 3 sore.. Ga kebayang mama-mama yang bisa kontraksi sampai 2 harian.. Apalagi yang harus melalui proses induksi juga..
Beuuuh, sakitnya kontraksi luar biasa, lebih sakit dibandingkan mengedennya.. Ini aja menurutku uda sakit, apalagi kalo ditambah sakit induksi ya? Bersyukur aku ga perlu induksi karena kakak sangat koperatif.. Kemarin pas proses lahiran aku hanya diinfus cairan penambah tenaga karena susternya takut aku kehabisan tenaga, secara tenaganya uda di pake teriak-teriak selama kontraksi dari pagi.. Hihihi..
Tapi bersyukur aku kuat dan semua sudah berjalan lancar. Bersyukur juga aku bisa menjadi seorang mama yang berjuang bersama dengan anakku saat melahirkan..

2 November 2016
Mata sembab masih kurang tidur.
Hari ini aku dijenguk oleh banyak orang, baik teman-teman kantorku, namboru Mori, dan mba Wati juga..
Kunjungan dari kantorku

Malam ini kami memutuskan untuk pulang aja ke rumah.. Alasan yang paling jelas adalah karena suami uda 4 hari ga masuk kerja (2 hari libur dan 2 hari cuti).. Kasian kalo harus cuti lagi, ntar kerjaannya numpuk..

Kak Kio udah boleh pulang sama Dr anak yang kemarin bantuin pas lahiran. Jadi tinggal tunggu Dr. Wawan apakah memperbolehkan emaknya pulang juga ato enggak.. Hari ini Dr. Wawan praktek di jam 7 malam. Jadi jam setengah 8 pas Dr Wawan dateng, aku sama suami langsung nyelak, nanya ke Dr apa udah boleh pulang ato enggak..

Ternyata masi diperiksa juga.. Kiran boleh main pulang-pulang aja.. Hahahaha..
Aku di USG lagi, apakah masih ada sisa tali pusar yang tertinggal, trus periksa jahitan juga. Setelah diperiksa, hasilnya aku boleh pulang. Tp nanti minggu depan harus cek up lagi..

Untuk biaya bersalin normal aku kemarin habis Rp 6.676.400
Rinciannya;
Emaknya:

Anaknya:

Ditambah biaya diurusin akte kelahiran kak Kiona Rp 170 ribu..

O iya, FYI rincian biaya bersalin di RS Masmitra tahun 2016:
Biaya bersalin RS Masmitra 2016

Kalo ada yang mau ditanya bisa comment aja ya..

O iya, satu lagi, sekarang RS Masmitra udah melayani BPJS.. Sebenernya dokter-dokternya lumayan sih di RS ini, cm pelayanannya agak lama aja, baik segi administrasi maupun koordinasinya..
Kemarin aja pas mau pulang, ngurus administrasinya doang bisa sampe sejam lebih. Kata suami aku dilempar sana sini. Ga tau apa mungkin karena pake asuransi ya (kami pakai asuransi sinarmas dari kantor suami) jadi harus koordinasi dulu apa gimana. Cape deh. Gimana yang pake BPJS yak, bisa lebih ribet kali ya.. Ini review RS nya loh ya..

O iya, karena ga pake BPJS kami dapet bonus foto dari RSnya.. Walaupun nama bapaknya salah.. Ggrrr..

Cek it out..


Oke, segitu dulu.. Next post mau cerita kemarin kakak Kio sempet di rawat karena katanya kuning.. Kalo penasaran langsung ke postingan selanjutnya ya, kalo dicritain di sini kepanjangan ya bo..

Stay tune..
Cacaw...